Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salah Sangka, Gara-gara Rajin Ngepet Tiap Malam

Ritual Rutin Mirna di Tengah Malam

Goresan Pena Suci - Lamunan Mirna tentang indahnya menjadi orang kaya seketika saja buyar oleh suara dentang jam dinding berlogo Manchester United kesayangan Bagas, suaminya. Ekor matanya refleks melirik ke arah sumber suara. Suasana di luar sangat sepi. Hanya terdengar bunyi jangkrik dan kodok saling bersahutan. Orang-orang di luar sana pastinya sudah tenggelam dalam lautan mimpi mereka masing-masing. 

Begitu juga dengan Bagas. Lelaki bercambang tipis itu tampak terlelap di sampingnya dengan napas yang beraturan. Sesekali, terdengar suara dengkuran halusnya. Walau pun perempuan berambut sebahu ala Andien Ikatan Cinta itu terlihat menguap, kedua mata indahnya tak jua bisa terpejam. Mungkin karena pengaruh dua gelas kopi hitam yang diminumnya hingga tandas, membuat Mirna masih on fire sampai sekarang. Meski pun waktu beranjak menuju tengah malam, rasa kantuknya tak jua terbit. 

 Mirna beranjak dari atas kasur, lalu melakukan beberapa gerakan untuk melemaskan otot-otot yang terasa pegal, kemudian menyeret langkahnya ke ruang tengah. Bibir perempuan muda itu melengkung membentuk senyuman sempurna, ketika sebuah ide tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Mirna menyingsingkan kedua lengan baju dasternya hingga ke atas sikut, lalu menangkupkan kedua telapak tangan serta berulang kali menggosok-gosoknya penuh semangat dengan mata berbinar. Rasa dingin yang tadi sempat menyelinap, kini kembali menghangat. Bibir Mirna terlihat komat-kamit. Pandangan matanya menyapu setiap sudut rumah, mengawasi keadaan sekitar. Ini adalah ritual rutin yang selalu dilakukannya setiap kali akan memulai. 

 "Tepat pukul 12.00 malam. Waktunya ngepet," bisiknya pada diri sendiri dengan memasang senyuman misterius. 

  Kegetiran di Pagi Hari 


 "Mirna!" Sebuah teriakan dari arah meja makan berhasil membuka kedua mata Mirna yang terpejam rapat. 

Walau pun rasa kantuk masih belum sirna, dipaksakannya beranjak dari atas pembaringan. Gara-gara semalam bergadang, Mirna sampai tak sempat menyiapkan sarapan untuk Bagas yang hendak berangkat kerja. Pantas saja kalau suaminya itu naik pitam. 

 "Mirna!" 

 Sekali lagi terdengar bunyi menggelegar yang membuat jantungan. Mirna dengan tergesa-gesa menghampiri sumber suara.

 "Kamu nggak bikin sarapan?" tegur Bagas dengan pandangan tajam yang membuat Mirna tak mampu menatap balik lawan bicaranya.

 "Anu, Kang. Maaf, aku kesiangan. Lagi pula, beras di rumah, habis. Uang belanja bulanan yang Akang kasih udah ludes juga. Aku buatin mie instan aja, ya?" 

 Bagas mendecak kesal, tetapi tak menolak tawaran istrinya. Untuk mengurangi emosi yang tadi sempat memuncak akibat pengaruh rasa lapar yang mendera, lelaki itu merebahkan diri di atas sofa. Tangannya meraih surat kabar dari atas meja. Tak lama kemudian, dia sudah terlihat asyik menelusuri halaman demi halaman surat kabar.

 "Kang. Anu ...." 

Baru saja beberapa menit Bagas berkutat dengan surat kabar, kegiatan membacanya terhenti oleh suara khas Mirna, lembut dan manja.

 "Apa?" 

 "Mie instan-nya nggak berhasil aku masak."

 "Kenapa?" Bagas mengernyitkan dahi sambil mengamati perempuan yang baru beberapa bulan ini dinikahinya. 

  Masa iya, masak mie instan saja tak bisa? Apa bisanya cuma masak air? gumam Bagas dalam hati. 

 "Bukan begitu, Kang. Gasnya habis. Air panas di termos juga udah dingin." 

 Sekali lagi Bagas mendecak. Dia merogoh saku celana panjang dinas hariannya. Hanya tersisa dua ribu rupiah saja. Amarahnya pun berganti menjadi iba. Rasa bersalah seketika saja mendera. Mirna tak bersalah. Walau pun keadaan mereka serba kekurangan, toh, selama ini, perempuan itu tak pernah sedikit pun mengeluh. 

 Perlahan, jemari lelaki itu mengelus lembut kedua pipi Mirna. Niat hati ingin membahagiakan sang pujaan, Bagas malah menyeret Mirna ke dalam kesengsaraan. Apalah daya, lelaki itu hanyalah pegawai honorer berpangkat rendah di kantor. Sehingga, gaji yang ia terima, sudah sedikit, nggak diberi formalin pula. Makanya, uang dalam saku dan yang ia berikan pada sang istri tak bisa awet sampai akhir bulan.

 "Maaf, ya. Akang belum bisa memberi kamu nafkah yang banyak. Bahkan jauh dari cukup. Seringnya kurang." 

 "Nggak apa-apa, Kang. Nanti aku bisa ambil dulu di warung. Awal bulan baru dibayar. Bu Encum pengertian, kok." 

Mirna berusaha tersenyum, untuk menghibur sang suami. Padahal, sesungguhnya, perempuan itu tengah berusaha sekuat tenaga agar air matanya tak terjun bebas. 

 "Ya, sudah. Akang berangkat dulu, ya. Siapa tahu di kantor dapat rezeki tak terduga. Doain." 

 Mirna mengangguk. Ia mencium takzim punggung tangan Bagas. Matanya tak mampu lepas, memandangi punggung suaminya yang makin lama semakin menjauh dengan perasaan getir. 

 "Aku harus lebih rajin lagi ngepet-nya."

 Tekad Mirna sudah bulat. Ia harus bekerja lebih keras lagi, agar kehidupan dirinya dan sang suami berubah ke arah yang lebih baik.

  Beberapa Bulan Kemudian 

 Keributan di Kantor RT 


"Pak, kumaha atuh ini, teh? Di kampung kita jadi tidak aman." 

 "Bener kata Bu Encum, Pak. Beberapa warga kehilangan uangnya. Jangan-jangan ...." 

 "Jangan-jangan apa, Ambu Iis?" 

 Berpuluh-puluh pasang mata menatap penuh tanya, penasaran menanti kelanjutan ucapan Ambu Iis. Mulai terdengar kasak-kusuk, saling berbisik di antara semua warga yang hadir. Ruangan itu bagai dipenuhi sekelompok lebah yang sedang berdengung. 

 "Semuanya harap tenang! Jangan sampai kita main hakim sendiri hanya karena termakan isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Hal ini malah akan semakin memperkeruh keadaan."

 Mendengar penuturan Pak Asep, RT di Kampung Toge, Ambu Iis memanyunkan bibir. Wanita berusia tujuh puluhan itu merasa tak puas dengan kinerja RT yang terkesan lambat menangani permasalahan ini. Dia-lah yang paling merasa dirugikan karena menjadi pemecah rekor sebagai korban pencurian dengan jumlah nominal uang terbanyak. Sampai saat ini belum ada yang mengalahkan. Padahal, uang-uang kesayangan itu sudah tersimpan rapi dalam brankas yang nomor kombinasinya hanya diketahui oleh dirinya saja. Jadi, suami atau pun anak-anaknya pun tak akan mungkin bisa membukanya. Setelah suasana mulai tenang, Ambu Iis kembali mulai buka suara.

 "Yeuh, Pak RT, Ambu mah sudah mengecap asam garam, sudah berpengalaman. Kalau metodenya seperti ini, uang kita hanya sebagian diambil, tidak salah lagi. Pasti di Kampung Toge teh ada yang ngepet atau memelihara tuyul." Ambu Iis mengurut dada seraya beristigfar. Perasaannya sedikit lega, sebab telah menumpahkan unek-unek. Ruangan itu kembali riuh. 

Bu Encum manggut-manggut tanda setuju dengan ucapan Ambu Iis barusan. Dia pun akhir-akhir ini menjadi salah satu korban kehilangan beberapa lembar uang hasil jualan warung yang ia simpan di laci. Baru kali ini wanita paruh baya itu mengalaminya. Parahnya, sang pencuri hanya menyisakan uang recehan saja dalam laci.

 "Bener, itu Ambu. Bapak teh harusnya tegas, gerak cepat. Bapak memangnya nggak menaruh curiga sama si Mirna yang tiba-tiba jadi kaya mendadak? Dulu teh, ya, tengah-tengah bulan, dia sering ngutang di warung saya, sekarang mah nggak pernah. Anehnya, walau akhir bulan, tapi uang belanjanya merah semua alias ratusan ribu. Herman, deh, saya." terang Bu Encum panjang lebar.

 "Hush, Herman mah nama suami saya. Jangan dibawa-bawa atuh!" protes Teh Entin sembari mendelik tak suka. 

"Iya, ih, Bu Encum, jangan sembarangan bawa-bawa nama saya. Kalau nanti ada wartawan datang ke Kampung Toge, gimana kalau ngejar-ngejar saya sama Entin? Kami nggak mau jadi saksi kunci terkait kasus ini."

"Sepakat." Teh Entin mengamini perkataan suaminya. 

Keduanya kompak akan menolak sesi wawancara dan memilih untuk bersembunyi agar tak ikut terseret terlalu jauh dengan misteri yang masih belum terpecahkan ini. Alasannya hanya satu, keduanya nggak pede tampil di depan kamera.



 Bu Encum cengengesan. Tak lama berselang, tampak tangan kanan wanita paruh baya itu terkepal dan meninju telapak tangan kiri. Pemilik warung serba ada itu merasa geram. Bila memang benar Mirna pelakunya, yang memelihara tuyul atau melakukan pesugihan, sungguh keterlaluan. Bu Encum selalu dengan hati ikhlas meminjamkan barang-barang dagangannya hanya pada Mirna saja, sebab merasa kasihan. Sementara itu pada warga lainnya, dia menolak dengan tegas untuk diutangi.  Sesuai dengan semboyan yang Bu Encum tulis di karton dan dipasang di etalase warung, No Money, No Shopping.

 Pak Asep mengurut pelipisnya yang seketika saja merasa pening. Di mana-mana Emak-emak memang selalu paling vokal dan terdepan dalam segala hal. Para Bapak malah terlihat kalem. Padahal, RT Kampung Toge yang sudah bertugas selama 2 periode ini juga sama, jadi korban pencurian uang iuran warga, tapi berusaha untuk tetap selow walau pun sesungguhnya dalam hati galau dan mellow.

 "Iya, Bu Encum. Malah sekarang si Bagas, punya moge (motor gede). Mahal, lho, harganya," timpal Ambu Iis yang diamini oleh hampir seluruh warga yang hadir dengan manggut-manggut.

 "Betul, kalau dipikir-pikir, Teh Mirna, kan, nggak kerja. Kang Bagas hanya sekadar pekerja honor dengan upah tak seberapa. Dari mana mereka bisa tiba-tiba punya uang banyak, kalau bukan ...." 

 "Sudah jelas sekarang mah buktinya. Hayuk atuh urang ontrog (labrak)!" Ambu Iis yang kesabarannya sudah habis, buru-buru menyela Kang Irman, salah satu Hansip di Kampung Toge. Wanita yang rambutnya hampir beruban semua itu bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh semua warga yang hadir. 

 "Sabar! Sabar! Tenang dulu!" Pak RT beserta dua orang bawahannya berusaha mencegah. Namun, gagal. 

 Semua warga yang hadir, telah meninggalkan kantor. Dengan amarah yang menggebu serta tujuan yang sama, mereka berbondong-bondong, hendak melabrak Mirna. Pria paruh baya berkumis tipis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan saling pandang dengan dua orang bawahan yang masih setia menemaninya di ruangan yang suasananya seketika berubah menjadi senyap. 

  Menjadi Tertuduh

 "Mirna! Buka pintu, Mirna!" 

 "Mirna, kembalikan uang kami!" 

 Mirna terkejut mendengar suara gaduh dari luar. Daun pintu digedor dengan keras. Tergopoh-gopoh, perempuan itu menyeret langkahnya dari arah dapur menuju ruang tengah. Bergegas dia membuka pintu dan tercengang menyaksikan kerumunan warga di halaman rumah.

 "Heh, balikin uang saya!" hardik Ambu Iis dengan nada tinggi seraya berkacak pinggang. Kedua matanya memandang sinis. 

 "Mirna, meski pun serba kekurangan, kamu teh jangan sampai khilaf menempuh jalan sesat." Walau emosi, Bu Encum yang dalam hatinya masih menyisakan sedikit rasa kasihan, berusaha berbicara agak lembut.

 Dahi Mirna berkerut. Dia sungguh merasa tak mengerti maksud dari perkataan Ambu Iis dan Bu Encum barusan. 

 "Kalau nggak mau ngaku, seret ramai-ramai si Mirna dan suaminya ke pendopo!" teriak salah satu warga dengan lantang dan berapi-api. Beberapa warga mengamini usulan itu.

 "Ada apa ini?" tanya Bagas yang baru saja selesai mandi. 

 "Nggak tahu, Kang. Aku juga nggak ngerti."

 "Alah, nggak usah pura-pura, Mirna! Jujur aja! Kamu ngepet, 'kan? Atau pelihara tuyul?" sindir Ambu Iis seraya melayangkan pandangan ke arah motor gede yang terparkir persis di halaman rumah Mirna. 

 "Maksud, Ambu?" tanya Mirna dan Bagas hampir bersamaan. Keduanya saling pandang, merasa bingung. 

 "Pakai logika aja atuh! Mana mungkin kalian bisa kaya mendadak, kalau nggak melakukan hal seperti itu!" teriak Teh Entin geram.

 Kerumunan itu menjadi ramai. Semuanya berteriak, menuntut Mirna mengembalikan uang mereka yang telah raib. Bersamaan dengan kegaduhan itu, Pak RT dan dua orang bawahannya tiba, mencari jalan masuk ke rumah Mirna dengan menyibak kerumunan.

 "Tenang! Tenang! Jangan main hakim sendiri. Kita dengarkan dulu penjelasan dari Bu Mirna!" ucap Pak RT setelah dia berdiri di antara Mirna dan Bagas yang masih tampak seperti orang linglung. Warga pun hening. 

 "Ada apa ini, Pak?" tanya Bagas sekali lagi. 

 Pak RT lalu menceritakan kronologisnya. Mirna dan Bagas saling beradu pandang, lalu tersenyum penuh arti. Kini suami istri itu mulai paham.

 "Apakah desas-desus itu benar, Bu Mirna? Apa karena obsesi Bu Mirna yang ingin kaya mendadak, hingga nekat mengambil jalan pintas seperti ini? Pesugihan, ngepet, atau sejenisnya?" Pak RT mengamati wajah Mirna dengan saksama, mencari kejujuran di sana. Pak RT menanti penjelasan perempuan itu dengan harap-harap cemas. 



 Mirna tersenyum tipis, melirik sekilas pada Bagas. Keduanya kemudian terlihat kompak mengangguk pelan. Terdengar helaan napas Mirna.

 "Iya, Pak. Saya akhir-akhir ini memang ngepet. Alhamdulillah, dari hasil ngepet inilah, kehidupan ekonomi kami sedikit lebih baik."

 Mendengar penuturan Mirna, warga kembali berisik. Mereka memandang Bagas dan Mirna sebal. Semuanya tampak gemas juga kesal. Mereka menghunjamkan tatapan marah, seperti singa yang siap menerkam mangsa. 

 "Tuh, kan!" 

 "Bener!" 

 "Apa saya bilang!" 

 "Tenang semuanya! Yang dimaksud istri saya ngepet itu, kependekan dari ngetik cepet. Istri saya bekerja dari rumah. Insya Allah halal. Mirna menjadi penulis di salah satu platform digital. Dan, alhamdulillah novelnya laris di sana, hingga menghasilkan bonus yang lumayan," terang Bagas.

 "Mana buktinya?" cibir Ambu Iis masih merasa tak puas sebelum uangnya yang hilang kembali ke tangan dengan utuh. 

 Mirna tersenyum, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam saku dasternya. 

 "Ini, Ambu, novel saya. Dan ini penghasilan saya dari nulis novel ini." 

 Sebagai keamanan di Kampung Toge, Kang Irman berhak lebih dulu tahu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Dia melangkah ke depan, menyalip Ambu Iis yang penuh antusias ingin merebut ponsel dari tangan Mirna. Berhasil, kini ponsel itu telah berpindah ke genggamannya. Kedua mata Hansip itu kini fokus pada layar. Seketika saja tangannya bergetar.

 "Jadi, Lucky Pinky itu, Teh Mirna?" tanya Kang Irman terbata-bata. Hansip itu masih merasa tak percaya, novel yang rutin ia baca dan sangat disukainya itu ternyata ditulis oleh tetangganya sendiri. 

 Ambu Iis merebut kasar ponsel dari tangan Kang Irman. Wanita itu terlihat tak sabar ingin menuntaskan rasa penasaran. Ambu Iis melebarkan pandangan, merasa takjub dengan nominal yang tertera di layar. Jumlahnya lebih banyak dari uang yang ia kumpulkan dalam brankas selama ini. Pantas saja, Mirna bisa mendadak jadi sultan. Tiba-tiba saja kepalanya menjadi pusing dan pandangan mata wanita itu tampak berputar-putar. Perlahan-lahan sekitarnya terlihat berkabut, mengabur, lalu kemudian gelap gulita.

 "Ambu, Mbu, bangun, Mbu! Duh, malah tidur. Kita di sini, kan, mau demo, menuntut uang kita kembali! Bukannya numpang istirahat." Bu Encum terlihat panik. Berulang kali dia mengguncang-guncang badan Ambu Iis yang ambruk di lantai teras rumah Mirna.
***
 Tamat 

 Ciwidey, 30 Oktober 2021 
 Written By: Teh Icus

6 komentar untuk "Salah Sangka, Gara-gara Rajin Ngepet Tiap Malam"