The Girl Next Door, Tetangga Baru yang Meresahkan Jiwa
Kedatangan Tetangga Baru
Goresan Pena Suci - Tiga Ibu paruh baya yang dikenal oleh warga komplek Pelangi dengan sebutan Trio Erumbas alias Trio Emak Rumpi penggemar bakso Mang Somad, sudah terlihat duduk-duduk di kedai bakso bernuansa serba merah muda. Hal ini menjadi agenda rutin mereka setelah ditinggal para suami bekerja dan anak-anak berangkat sekolah. Seperti sudah dapat ditebak, pastinya mereka bertiga hendak makan bakso, bukan berniat ingin bantu-bantu Mang Somad. Tentunya, sambil diselingi dengan bergosip ria.
Mang Somad memang terkenal seantero komplek Pelangi dan diidolakan oleh hampir seluruh penghuni komplek, terutama kaum hawa. Bukan karena Mang Somad itu mirip-mirip Chef Juna, ya. Bukan itu alasannya. Mang Somad banyak diburu, karena kelezatan baksonya dan keunikan kedai yang dikelola Chef Juna kw dari Perancis alias Perempatan Ciamis.
Keunikan dari kedai milik Mang Somad, yang diberi nama Kedai Sarangheyo ini, tidak hanya dari bentuk bakso dan nama-nama menu baksonya saja. Desain ruangannya pun unik. Ruangan sengaja dicat dengan warna pink yang dikenal sebagai warna cinta. Tidak hanya dinding yang berwarna merah muda. Meja, kursi, mangkok, botol saus dan kecap, tempat garam, tempat sambal, tempat sendok hingga sedotan pun berwarna merah muda. Atapnya dihiasi dengan berbagai aksesoris berbentuk hati yang melambangkan cinta. Warnanya sungguh sangat identik dengan kaum hawa alias girly banget. Tentu saja hal ini membuat kaum perempuan betah berlama-lama berada di kedai ini.
Mang Somad bergegas menghampiri meja Trio Erumbas, setelah diberi aba-aba lambaian tangan Bu Wida. Dia membawa notes kecil dan pulpen, bersiap menuliskan menu yang akan dipesan oleh ketiga Ibu langganan setianya. Walau pun ada beberapa pelayan di kedai ini, mereka bertiga hanya ingin dilayani langsung oleh owner-nya.
"Saya pesan Bakso Cinta komplit, ya, Mang," ujar Bu Wida yang ditanggapi Mang Somad dengan anggukan, sementara tangannya sibuk mencatat.
"Cie, yang lagi berbunga-bunga. Sepertinya ada kabar bahagia, nih." ucap Bu Mira sembari menatap Bu Wida penasaran.
"Bagi-bagi atuh, kabar baiknya," timpal Bu Maryam ikut antusias dan kepo alias ingin tahu. Padahal dari tadi, wanita bergamis motif bunga-bunga itu sedang tak bersemangat. Pikirannya tengah tak fokus.
Mang Somad masih setia berdiri di dekat meja mereka sambil senyum-senyum, ikut menyimak obrolan.
"Tahu aja, kalau saya teh, lagi senang. Suami saya naik jabatan di kantor. Pastinya, gaji dia pun ikut naik." Binar bahagia terpancar jelas di kedua mata Bu Wida, diiringi tatapan kagum dan ucapan selamat dari kedua temannya juga dari Mang Somad.
"Mang, saya mah lagi butuh makan yang banyak," celetuk Bu Mira sembari membolak-balik buku menu. "Pesan seporsi Bakso Rindu, deh."
"Eh, tumben. Kangen sama siapa, Bu Mir?" Kini giliran Bu Wida yang merasa penasaran.
"Suami saya mulai bulan depan dipindahtugaskan ke luar negeri. Saya nggak mungkin ikut. Sayang banget kalau si Jono harus pindah sekolah. Beberapa bulan lagi mau ujian."
"Tah, eta, Bu Mir, cocok pisan. Bakso Rindu porsi banyak, pas buat yang mau menjalani Long Distance Marriage. Makan banyak, biar kuat menghadapi kenyataan."
Bu Mira menggangguk tanda setuju. Mang Somad buru-buru mencatat pesanan wanita berkacamata cat eye itu.
"Saya, mau Bakso Cemburu, plus sambalnya yang banyak, Mang."
Tiga pasang mata bersamaan memandang heran ke arah sumber suara. Yang ditatap terlihat berwajah sendu.
"Bu Maryam teh kenapa, atuh? Meuni sedih begitu," ujar Bu Wida memandang iba.
"Iya, ih, galau melulu akhir-akhir ini. Kemarin pesan Bakso Asmara yang ada uratnya. Kan, susah, tuh, makannya, harus digigit sekuat tenaga," timpal Bu Mira.
"Iya, Bu. Seperti sedang memperjuangkan sesuatu yang berat." Mang Somad ikutan kepo.
Bukannya jawaban yang ke luar dari mulut Bu Maryam, melainkan terdengar suara isakan. Bu Wida, Bu Mira, dan Mang Somad saling pandang dengan dahi berkerut, bingung atas reaksi yang ditunjukkan Bu Maryam. Bahkan, tangan wanita itu mulai terkepal dan meninju-ninju meja.
"Saya lagi cemburu dengan kehadiran tetangga baru. Suami saya kayaknya ngincer tetangga baru itu," ujarnya geram.
Bu Wida, Bu Mira, juga Mang Somad terlihat mengangguk-angguk, mulai memahami penyebab kesedihan Bu Maryam.
"Tetangga baru di sebelah rumah Bu Aisyah, itu, ya? Yang tinggal berdua sama pembantunya?" Bu Wida menggigit bibir. Dia mengakui penghuni baru komplek Pelangi itu memang cantik bagai boneka barbie. Dia pun merasa khawatir suaminya akan tergoda.
"Denger-denger, sih, dia lulusan kampus ternama di luar negeri, ya? Udah cantik, pintar lagi. Sempurna." Bu Mira yang merasa sedih karena suaminya akan pergi jauh, dalam hatinya seketika saja mengucap syukur. Dia tak perlu merasa was-was, karena suaminya tak akan ikut-ikutan tebar pesona.
"Jangan suudzon dulu sama suami-suaminya atuh, Ibu-ibu. Harus yakin 100 persen, suami-suami Ibu teh, orangnya setia. Kalau, nggak, masa, iya, bisa berumah tangga sampai belasan tahun dan dikaruniai buah hati. Betul, tidak?" Melihat kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah ketiga pelanggan setianya, Mang Somad berusaha menghibur.
Trio Erumbas serempak mengangguk, meski pun dua di antaranya masih merasa belum yakin. Namun, panggilan perut dan aroma bakso lebih menggoda seketika saja berhasil menghalau kegalauan hati Bu Maryam dan Bu Wida untuk sementara waktu.
***
The Girl Next Door Penebar Virus Cinta
"Bang Aris, itu buat Bunda sama Afika, ya?" Afika, remaja SMA kelas X itu menatap bahagia bungkusan yang dibawa Abang nomor duanya. Dari aromanya yang enak, gadis itu sudah dapat menebak, isi dalam bungkusan di genggaman sang kakak.
"Wah, kebetulan, nih, Bunda belum masak. Pas banget juga Bunda lagi lapar. Mana, sini baksonya," timpal Bu Aisyah tak kalah semangatnya.
Aris, mahasiswa Sastra Indonesia itu nyengir sembari garuk-garuk kepala, merasa bersalah.
"Anu, maaf, ya, Bunda dan adikku tersayang. Ini buat ....."
"Buat tetangga sebelah, katanya, Bund." Arfan, sang kakak tertua tiba-tiba saja muncul dari kamarnya.
"Bu Broto?"
"Bukan tetangga sebelah kanan, Bund. Tetangga sebelah kiri, yang baru pindah seminggu lalu."
Bibir Bu Aisyah membulat mendengar penjelasan Arfan. Tatapan teduhnya secara bergantian mengamati kedua putranya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Maaf, ya, Bund, Fika. Doain Abang kelak bisa jadi penulis terkenal. Kalau udah punya uang banyak, jangankan semangkuk bakso, Kedai Sarangheyo sama Mang Somadnya sekalian Abang beli. Biar Fika bisa makan bakso sepuasnya." Aris berusaha menghibur Afika yang cemberut.
"Tunggu, tunggu! Gue juga ikut!" Alfian, Abang ketiga, tiba-tiba saja muncul dari arah dapur, membawa tiga susun rantang yang aroma isi di dalamnya tak kalah menggugah selera.
Ketiganya lalu serempak berdiri dengan sikap sempurna menghadap sang bunda.
"Bund, doain, ya. Dengan Bakso Cinta dan Bakso Kasih Sayang di tangan, Aris akan membawa sang bidadari pulang," ujar Aris berapi-api.
"Alah, bakso doang. Nggak seru. Mending gue, dong. Bawa makanan yang dimasak sendiri sepenuh hati. Rasanya pasti lebih membekas dalam ingatan." Alfian memandangi rantangnya dengan bangga. Abang yang satu ini memang jago masak.
"Kamu bawa apa, Fan?" tanya Bunda heran melihat putra tertuanya itu tampak santai dengan tangan hampa alias tak menggenggam setangkai mawar merah mau pun sekotak cokelat berbentuk hati.
"Arfan bawa jasmani dan rohani yang sehat aja, Bund. Buat persiapan dan jaga-jaga. Arfan kalau terpilih, kelak akan menjadi pendamping hidupnya yang sehat, kuat, dan bisa melindungi. Seperti bunyi semboyan, Men Sana In Corporesano. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat." Arfan dengan penuh semangat dan percaya diri tingkat tinggi, memperlihatkan otot-otot lengannya, hasil dari rajin nge-gym secara rutin.
"Rupanya Abang-abang ini lagi bersaing dapetin the girl next door?" cibir Afika.
"Secantik apa, sih, dia? Sampai-sampai ketiga jagoan Bunda saling sikut? Bunda jadi penasaran."
"Namanya Mallika, Bund. Cantik, deh, pokoknya, seperti boneka barbie." Ini kata Alfian.
"Iya, Bund, selain parasnya cantik, wangi parfumnya saja tercium dari kejauhan. Seperti wewangian dari surga." Ini menurut Aris.
"Dari penampilannya, sih, yang jelas dia sehat jasmani juga rohani. Bentuk badannya ideal, kulit wajahnya mulus. Pasti rajin olahraga, makan teratur juga bergizi," terang Arfan, sang guru olahraga.
"Tenang, Bund, Fika temani ketiga Abang ini. Biar nggak macam-macam."
"Ide bagus, Adik manis. Kalau ada kamu, kan, kita nggak akan terlalu canggung." Alfian sepakat dengan usulan sang adik.
"Tapi, Bunda, nggak apa-apa sendirian?"
"Nggak apa-apa. Kalian, kan, hanya main ke sebelah." Bu Aisyah tersenyum lembut dan mengelus pipi putri bungsunya.
Setelah pamit, mereka berjalan beriringan menuju rumah berpagar tinggi dan bercat nuansa putih yang terletak tepat di samping rumah mereka. Dari balik pagar rumah, Bu Aisyah terharu melihat keempat buah hatinya kompak juga akur.
Baru saja ketiga abang Afika hendak mengucap salam, pintu gerbang itu tiba-tiba saja terbuka. Dari arah dalam, muncul Pak Sasongko, suami Bu Maryam dan Pak Gunadi, suami Bu Wida. Raut wajah kedua pria paruh baya itu tampak kusut. Menyadari kehadiran anak-anak Bu Aisyah, mereka mencoba tersenyum ramah, walau pun memang terlihat dipaksakan.
"Hati-hati, nanti kecewa," bisik Pak Sasongko di dekat Aisyah dan Abang-abangnya. Sementara Pak Gunadi berkali-kali terdengar menghela napas. Mereka kemudian bergegas mengambil langkah seribu meninggalkan rumah itu tanpa menoleh sedikit pun.
"Hati-hati juga, Pak. Jangan sampai dukun bertindak, ya!" teriak Alfian yang menduga kekecewaan yang ditunjukkan oleh kedua pria tadi, akibat cinta mereka ditolak.
Afika dan ketiga abangnya lalu masuk ke halaman rumah. Setelah berulang kali mengetuk dan mengucap salam, barulah pintu itu terbuka. Afika dan ketiga abangnya tak berkedip, merasa takjub dengan sosok tinggi semampai yang muncul dari balik pintu. Kulit wajah yang putih merona, rambut hitam lurus tergerai, mata bulat lebar, alis tebal, rapi, dan natural, serta bibir tipis. Sungguh kecantikan yang paripurna. Ketiga Abang Afika kompak hanya diam terpaku, seolah-olah lidah mereka kelu. Sesekali terlihat saling sikut. Siapa tahu di antara mereka bertiga ada yang mengambil inisiatif membuka percakapan duluan.
"Kak Mallika, ya?" Afika mulai buka suara dengan nada ramah, memecah kesunyian yang tercipta.
"Oh, mau ketemu Mallika. Silakan masuk." Gadis cantik itu membalas dengan senyuman hangat, memunculkan lesung pipit di kedua pipinya. Sehingga menambah ayu paras wajah barbie hidup ini. Dia membuka lebar pintu, mempersilakan keempat tamunya masuk.
"Sebentar, ya," pamit gadis cantik itu, setelah Afika dan ketiga abangnya duduk di sofa.
Tak lama berselang, tampak seorang gadis lain, turun dari arah tangga yang melingkar menuju ruang tamu.
"Mencari saya?" ujar gadis itu dengan logat kebarat-baratan. Dia mengambil tempat duduk di sofa single di depan tempat duduk Afika dan ketiga abangnya.
Gadis ini berparas kebalikan dari gadis pertama yang membukakan pintu tadi. Rambutnya ikal, dengan kulit wajah agak gelap dan sedikit mengkilap, bibir tebal, serta hidung bulat. Afika menahan tawa menyaksikan wajah ketiga abangnya yang terlihat syok dan pias.
"Mallika itu, yang tadi bukan?" tanya Aris setelah berhasil menguasai keterkejutannya. Dalam hatinya masih ada secercah harapan, kalau gadis yang sedang duduk dengan menyilangkan kaki ini bukanlah Mallika.
"No. I'm Mallika. She's Gina, my step mom. Ibu tiri saya. Saya benci Papa memilih Ibu tiri yang hampir sebaya dengan saya. Walau pun Gina cantik, I don't really like her."
Wajah ketiga abang Afika seketika saja pucat pasi, lemas rasanya. Gagal sudah mewujudkan niat membawa calon menantu bak bidadari surga untuk sang bunda. Afika masih berusaha sekuat tenaga menahan tawa.
Syukurin. Suruh siapa pada genit?
Sumber gambar: Freepik.com
Tamat
***
Ciwidey, 31 Januari 2022
Written by: Teh Icus
Ah punya tetangga kok gitu sih
BalasHapusHuhuhu
š¤£bikin resah, ya
Hapus