Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Luka Batin, Akibat Terbujuk Rayuan Semanis Madu, Namun Nyatanya Sepahit Empedu

 

Di halaman rumah Alisa

Goresan Pena Suci - “Hei lihat, tetangga baru kita, ganteng banget ya, aku jadi naksir deh!” seru ayam betina pada seekor merpati betina yang tengah asyik makan biji jagung.

“Yang mana, sih? Hati-hati, lho, cakep gitu mah, biasanya dia setia." Merpati betina berbulu putih, menghentikan kegiatan makannya, melihat ke arah yang ditunjukkan oleh sang ayam betina.

“Ya, bagus, donk. Justru yang kayak gitu, tuh, tipe aku banget, aku juga setia soalnya." Kedua mata ayam betina berbinar ceria. Pandangan matanya tak lepas dari seekor ayam jantan berbulu kuning, hitam, dan, abu-abu yang tengah mematuk-matuk makanan di halaman samping rumah tempat mereka dipelihara.

“Iya, setia, setiap tikungan ada, hahaha,” ledek merpati betina.

“Ih, kamu mah gitu deh, pokoknya aku bakal buktikan, ayam betina syantik ini akan membuat dia bertekuk lutut dan cinta mati.”

Sang merpati betina tertawa mendengar ucapan ayam betina, hatinya berdesir saat tak sengaja beradu pandang dengan seekor merpati jantan berbulu putih yang tengah berbincang dengan ayam jantan yang baru saja menjadi perbincangan hangat diantara mereka.
***

Di halaman rumah Alcala

“Widiih, ada pemandangan bening di sebelah. Cakep bener, ya, itu ayam betina. Bikin ge-er aja dari tadi ngelihatin gue terus, tahu aja dia kalau gue itu ganteng." Sang ayam jantan mulai tebar pesona. Mondar-mandir cari perhatian dengan pedenya.

“Ya salam, kemarin kamu bilang ayam betina di ujung gang cantik, belum lagi yang di seberang jalan komplek juga kamu rayu, terus sekarang lihat yang di samping rumah juga mau kamu goda, kapan, sih, kamu seriusnya?” Merpati jantan heran melihat tingkah temannya itu.

“Hei, boy, kita itu laki-laki, wajar lah punya pasangan lebih dari satu, masa muda itu kudu dinikmati, coy!” seru ayam jantan sambil melangkah ke rumah sebelah bermaksud untuk mengenal lebih jauh sang ayam betina.

Merpati jantan menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah sang ayam jantan, matanya terpaku pada merpati betina putih yang sedang bercakap-cakap dengan ayam betina di halaman rumah sebelah tempat mereka dipelihara, seketika hatinya berdebar tak karuan.
***

Di kantin sekolah

“Alisa, tahu nggak, aku punya hewan peliharaan baru, lho. Seekor ayam jantan dan seekor merpati jantan,” ungkap Alcala antusias dengan mata berbinar bahagia. Bayangan kedua penghuni baru di halaman rumahnya itu sekilas berkelebatan di pelupuk matanya, menerbitkan sebuah senyuman.

“Wah bagus, dong. Hewan peliharaanmu bisa, tuh, temenan sama punyaku. Dua-duanya betina." Alisa berceloteh tentang peliharaan baru di rumah, tak kalah antusiasnya.

“Keren, bisa kita jodohin juga, biar tambah banyak, mama papa kita pasti mendukung.”

Alisa mengangguk tanda setuju. “Good idea, I agree with you. Tapi, kalau mereka sudah punya keturunan, mereka tinggal di rumahku, ya."

"Boleh, boleh. Tapi, kalau mereka tinggal di rumah kamu, aku kasih makannya gimana?"

"Untuk ngasih makannya kita bisa gantian. Ya, bikin jadwal gitu, lah. Gimana? Deal?” Alisa menatap lekat Alcala, menanti jawaban.

Deal.” 

Alisa dan Alcala, dua orang sahabat yang rumahnya saling berdekatan, mereka punya kegemaran yang sama, penyuka hewan unggas dan sama-sama memelihara ayam juga merpati.

Sejak janji di antara mereka terucap dan terwujud menjadi kesepakatan bersama, kedua sahabat itu semakin intens bermain bersama dan saling mengakrabkan hewan peliharaan masing-masing.
***

Beberapa bulan kemudian

“Ucapan kamu waktu itu benar. Ayam tampan yang kupuja ternyata memang setia. Setiap tikungan ada,” curhat sang ayam betina dengan wajah muram. Matanya sayu, sedih menyaksikan keempat ekor anaknya tengah berciak-ciak kelaparan.

“Jangan suudzon, positive thinking aja. Siapa tahu suami kamu sedang mencari makanan buat kalian,” hibur merpati betina, menatap iba pada ayam betina.

Sang ayam betina menghela napas berat, ingin rasanya ia percaya ucapan merpati betina, namun justru kenyataan pahit harus ia hadapi sendiri. Jujur, ia sangat menyesal, sudah begitu saja percaya pada rayuan maut sang ayam jantan, ia benar-benar merasa bodoh dan kecewa telah tergoda oleh pesona ketampanannya.

“Aku iri dengan nasibmu. Coba saja kalau suamiku itu seperti suamimu.  Kalian itu selalu kompak. Hebatnya, kamu diperlakukan sangat romantis, menjalani rumah tangga dengan bekerja sama. Sementara aku? Dari mulai mengerami, sampai mencari makan pun, aku yang harus bersusah payah. Aku lakukan semuanya sendiri, mana kadang dia kayak Bang Toyib, suka lupa pulang. Nasib ..., nasib.” Sang ayam betina mulai menangis.

Sementara itu, merpati betina ikut bersedih mendengar penuturan sahabatnya. Sebagai sesama perempuan, dia ikut merasakan kesedihan, serta luka batin yang dialami ayam betina, hingga membuat badan sahabatnya itu kurus kering. Benaknya membenarkan ucapan sang ayam, seraya mengucap syukur dalam hati. Pikiran sang merpati betina kembali memutar hal-hal yang telah ia lalui bersama sang merpati jantan. 

Ia benar-benar merasa beruntung memiliki suami yang baik, setia (dalam arti sebenarnya), bertanggung jawab, selalu memperlakukannya dengan romantis, dan mau berbagi tugas mengurus rumah tangga dan anak mereka.

“Udah jangan sedih. Kamu yang sabar ya, kamu harus kuat, demi anak-anak.  Aku justru bangga padamu. Kamu itu benar-benar strong seperti wonder woman. Pejuang keluarga yang tangguh.”

Sang ayam betina tersenyum mendengar penuturan merpati betina sambil mulai menyuapi keempat ekor anaknya secara bergantian.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, sang ayam jantan tengah tebar pesona, hinggap dari satu betina ke betina lainnya, hingga ketampanannya pun semakin lama kian memudar.
***

Di rumah Alcala

“Yah, nih, si jalu, Cala temukan di ujung gang." Alcala mengamati salah satu hewan peliharaannya yang dulu sangat ia banggakan, kini terlihat tak menarik lagi baginya.

"Bulunya udah jelek gini, ya, Yah, kurus lagi,” Alcala memperlihatkan ayam jantan miliknya yang telah hilang beberapa hari yang lalu pada ayahnya.

“Iya, dia sudah tua. Minta dimasak ayam kecap aja sama Ibu, nanti kita beli lagi ayam jantan yang baru.” Pak Arman membawa sang ayam jantan ke dapur, bermaksud untuk memotongnya.

Mendengar ucapan sang majikan, ayam jantan itu hanya mampu pasrah. Tubuhnya terlalu lemah untuk mencoba berontak. Tatapannya lirih, memandang istri dan keempat anaknya yang tengah makan dengan lahap.

Maafkan daku, istri dan anak-anakku sayang. Good bye my love, my little family, see you in heaven, gumamnya dalam hati sok romantis.

Sementara itu, sang ayam betina tampak kebingungan. Meski pun batinnya terluka karena pengkhianatan, tetapi ada rasa sesak memenuhi relung hatinya kini. Ditatapnya keempat buah hati tercinta yang semakin mirip dengan ayahnya. Rasa hampa dan kehilangan tiba-tiba saja menyeruak.

"Aku jadi jomlo, mereka jadi anak yatim, dong," ratapnya pilu.

Sang merpati betina yang tengah menyuapi anaknya, bergegas menghampiri.

"Kamu yang sabar. Ya, mau gimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Perbuatan suamimu juga yang membuat dia bernasib seperti itu."

Sang ayam betina mulai sesenggukan. Merpati pun sontak mendekap sahabatnya.

"Kamu yang kuat, ya. Demi mereka."

"Iya, kamu benar. Aku lebih baik fokus mengurus mereka dan mempercantik diri. Siapa tahu, nanti dapat gebetan baru." Sang ayam betina kini mulai tersenyum

Merpati betina geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah sahabatnya. Dalam hati, ia berharap sang ayam betina akan menjalani kehidupan yang indah kelak.

Sumber gambar: Freepik.com

***
Tamat

Ciwidey, 18 Januari 2022
Written by: Teh Icus

2 komentar untuk "Luka Batin, Akibat Terbujuk Rayuan Semanis Madu, Namun Nyatanya Sepahit Empedu"